Mengatur Diri Sendiri

Reportase ini disusun oleh: Dewi Krisdiyanti (15120285)

Pada bab minggu lalu mata kuliah filsafat pendidikan yang diampu oleh Bapak Aniq membahas mengenai pendidikan dan pada bab yang lalu juga membahas arti merdeka yaitu berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain serta dapat mengatur diri sendiri. Pada minggu ini hari selasa tanggal 16 Oktober 2018, Bapak Aniq di kelas 7A membahas tentang salah satu arti merdeka yaitu “Mengatur Diri Sendiri”.

Bapak Aniq berpendapat bahwa mengatur diri sendiri artinya manusia bisa mengatur dirinya namun hal tersebut tidak beraturan. Seperti yang disampaikan beliau misalnya setiap orang dapat mengatur kehidupannya masing-masing. Meskipun adakalanya kehidupan manusia diberikan aturan-aturan seperti makan tiga kali sehari. Namun, setiap orang memiliki hak untuk menentukan atau mengatur dirinya sendiri karena dirinya sendiri yang mengetahui kondisi tubuhnya masing-masing. Ada seseorang yang makan hanya dua kali sehari atau bahkan lebih dari tiga kali sehari dan menurut mereka itu adalah suatu aturan yang biasa dijalani meskipun pada dasarnya aturan umum menentukan makan hanya tiga kali sehari. Itu artinya manusia bisa mengatur dirinya meski tidak beraturan.

Mengelola diri merupakan pendidikan karakter yang selama ini dibatasi formalisme. Menurut Ki Hajar Dewantara seperti yang disampaikan Bapak Aniq, mengelola diri adalah sebagai wujud kesadaran manusia sebagai benar-benar manusia. Hal ini karena menurut beliau manusia itu sebagai titah Tuhan. Ibarat pohon karet yang mengeluarkan getah.

Allah itu adalah Dzat yang tidak bisa dibayangkan seperti apa. Semakin dibayangkan maka semakin keliru. Bapak Aniq berpendapat bahwa Allah itu seperti ruang yang tersamarkan, maka Allah perlu untuk dikenal sehingga Allah menciptakan adam sebagai manusia, yang kemudian dipinjami asma-asma Allah. Seperti contohnya Allah memiliki sifat penyayang dan manusia memiliki sifat penyayang namun manusia tidak bisa menyamai sifat penyayang yang dimiliki Allah tersebut.

Allah mempunyai ilmu dan dengan hal itu Allah menciptakan realitas (jagat raya, alam) yang kemudian ilmu tersebut dipelajari oleh manusia menjadi ilmu manusia yang lahir dari pemahaman manusia. Sehingga hal tersebut terus berputar. Allah menciptakan ilmu dan manusia mempelajarinya sehingga menjadi ilmu yang lahir dari pemahaman manusia dan digunakan manusia dan hal tersebut berputar terus menerus sehingga manusia menjadi suatu poros (titah). Hal ini menjadi alasan bahwa manusia itu adalah titah Tuhan.

Pada pertemuan minggu ini salah satu mahasiswa kelas 7A menyampaikan pertanyaan pada Bapak Aniq tentang " Bagaimana awal mula penyebutan syech, habib, gus, teuku?". Kemudian Bapak Aniq berpendapat bahwa penyebutan tersebut hanya untuk strata. Misalnya penyebutan syech pada mulanya untuk orang tua tapi seiring waktu tidak. Namun, untuk orang yang sudah berilmu lebih dan saat ini meskipun masih usia anak-anak namun apabila memiliki ilmu yang sudah lebih misalnya maka bisa dipanggil syech.


Untuk pengetahuan lebih luas silakan klik link berikut:
1.Ismaul Amalia (15120007)
2.Devi Endah Prastiwi 15120441
3. Nur tri atika (15120040)
4. Meiyani Lutfil Khoiriyah 15120450
5. Martiya Zulfa Risty (15120039)
6. Anisa Rona Soraya 15120447
7. Dewi Krisdiyanti
8. Nailul Fauzziyah (15120405)
9. Dyah Saraswati (15120364)
10. Atik Budiarti 15120010
11. Ibnu Mas'ud (15120218)
12.Fadila Nurfi A (15120322)
13. Khafidzoh Asfihani 15120008
14. Susilo bayu.
15. Sukma Rudi Nugroho
16. Intan Nur Fatikha Mulya.
17.febydwiangrainy.
18. Hadiah hana putri 15120471
19. Riskha Khoirul Ulya 15120219
20. Dhimas Oeka Aji W 15120013
21. Neneng Zuliasih 15120016


Comments

Popular posts from this blog